kkk~bahasanya agak formal... maklum namanya juga tugas sekolah
Toleransi
Toleransi adalah sikap mewajari sesuatu yang tidak kita sukai atau
bertentangan dengan pemikiran kita, tanpa menyetujui hal tersebut sebagai
sesuatu yang benar (source: KBBI digital; wikipedia, dengan perubahan).
Dalam bermayarakat&beragama sangat dianjurkan untuk bertoleransi,
apalagi hal ini didukung kondisi negara kita yang dihiasi dengan keragaman
etnis. Pada kondisi sehari-hari pun berbeda pemikiran telah menjadi hal yang
biasa, karena manusia adalah mahluk sosial sekaligus individu yang harus saling
berinteraksi, meskipun memiliki pemikiran masing-masing yang pastinya saling
berlainan, bahkan terkadang bertentangan.
Dari fenomena tersebut muncullah sikap toleransi di masyarakat. Biasanya suatu
hal dapat ditolerir karena masih berada diambang batas yang dapat diterima.
Toleransi terjadi sebagai salah satu bentuk adaptasi sosial, yang dilakukan
untuk melancarkan hubungan interaksi dengan orang/pihak lain. Dengan kata lain toleransi biasanya
dilakukan untuk menghindari masalah yang dapat timbul dari perbedaan di
masyarakat, dengan alasan saling menghargai hak diantara kita. Contohnya saja menghargai logat
berbicara orang dari suku yang berbeda.
Tapi coba kita lihat keadaan yang banyak terjadi sekarang. Sangat sering
terjadi penyalahgunaan sikap “toleransi” ini oleh oknum-oknum yang memanfaatkan
kebiasaan orang (terutama orang Indonesia) dalam bertoleransi, atau yang kita
kenal dengan kompromi yang sering kita dengar sebagai respon “ga apa-apa”.
Sebagai contoh sikap pelajar yang sering mengerjakan tugas mendekati tengat waktu
pengumpulan(deadline) karena sering di”toleransi” oleh kebanyakan guru. Contoh
lain adalah membiarkan orang yg merokok di tempat umum, dengan alasan
menghargai hak si perokok. Bukankah orang disekitarnya juga punya hak menghirup
udara yang sehat. Lalu bagaimana dengan alasan para guru dan orang yg
mengafirmasi perokok tadi? Masih dapatkah toleransi dikatakan sebagai solusi?
Jika iya bagaimana kadar yang tepat dalam pemakaian toleransi ini?
~Mari kita bedah kembali
kasus diatas, dan kita koreksi dengan pengertian
toleransi yang sesungguhnya~
Seperti halnya obat yang dapat menjadi racun, toleransi pun bisa
menimbulkan petaka jika tidak digunakan dengan tepat. Toleransi idealnya
dilakukan seperti pengertian yang kita baca di awal tulisan ini, dalam
pelaksanaan diatas belum semua komponen pelaksanaan toleransi terpenuhi.
Lalu dimana letak kesalahan yang terlewati para korban oknum seperti kasus
yang ada di paragraf sebelumnya? Salah satunya kesalahan yg terjadi dari pengamalan
toleransi yg salah diatas adalah pemikiran seseorang bercampur dengan hal yang
ia tolerir. Bila hal ini berkelanjutan, maka para korban (guru&pro rokok)
akan sungkan bahkan enggan mengkoreksi perilaku oknum(murid&perokok), pada
akhirnya ke”nikmatan” toleransi yang dirasakan oleh oknum akan membudaya dan
lestari di masyarakat. Jika hal ini terjadi bukan hanya oknum&korbannya
yang dirugikan, tapi generasi selanjutnya pun menjadi korban dari praktik
toleransi yang salah ini.
Apakah ada akar masalah yang lebih dahulu menyebabkan timbulnya pembelokan
praktik toleransi ini? Coba kita lihat salah satu sejarah Islam berikut ini

Terjemahan Bacaan Surat Al
Kafirun
1). Katakanlah: Hai orang-orang
kafir
2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku
2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku
Asbabun
nuzul
~Taukah sahabat
kejadian apa yang mendasari turunnya firman Allah diatas?~
Pada peristiwa tersebut kondisi umat Islam mulai menunjukkan keunggulannya
di tengah masyarakat jahiliyah Arab. Karenanya para pemimpin kafir Quraisy
mulai merasa terancam dengan keberadaan dakwah Rasulullah Muhammad saw yang tak
tergoyahkan. Muhammad saw beserta seluruh umatnya berpegang teguh dengan
kebenaran yang mereka yakini tanpa menghiraukan cemoohan dari masyarakat
selainnya, bahkan tak teralihkan oleh ancaman yang diterorkan para pembesar
umat kafir.
Meski usahanya tak membuahkan hasil, pada musyrikin terus mencari cara agar
Muhammad saw berhenti berdakwah, dan seluruh muslim kembali pada budaya saat
itu. Mereka pikir dengan dakwahnya Muhammad saw hanya ingin menunjukkan kekuatannya
dan cari perhatian agar mendapatkan perhiasan duniawi yang mereka kejar dan
banggakan. Tapi mereka tahu nabi Muhammad bukan orang rendahan, maka mereka
menggunakan strategi penawaran yang dianggap akan menyenangkan hati Muhammad.
Salah satu kafirun mendatangi Nabi Muhammad, mengatakan seluruh kaum
Quraisy akan mengikuti ajaran Muhammad saw. Bahkan akan memberikan tumpukan
harta dan kebebasan memilih wanita manapun kepada Muhammad saw, tapi dengan
syarat: perjanjian ini hanya berlaku semusim, dan musim selanjutnya kaum
Rasulullah lah yang harus balik menyembah lata,uza, manna. Dan kembali kepada
budaya jahilliyah, menghamba pada nikmat dunia dengan hukum rimba nan
kapitalis.
Tentu tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah, beliau sampaikan
firman Allah ini dengan tegas, namun dengan pembawaan yang sopan. Lagi-lagi
pemimpin Quraisy keheranan, karena strateginya tak juga berhasil.
~Bukankah itu penolakan
yang tegas? Dimana sikap toleransinya? Lalu apa ada
hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa
diatas?~
Dari peristiwa tersebut banyak hal yang dapat kita pelajari. Salah satunya
ketegasan Rasulullah&firman Allah dalam menunnjukkan antara kebenaran dan
kebathilan. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kesalahan mengamalkan sikap
toleransi terjadi karena seseorang mulai menyetujui hal yang ia tolerir,
padahal berkebalikan dari pemikirannya sendiri. Padahal, faktanya kebenaran
pastilah satu. Jelas mana yang benar dan salah itu, putih yang bercampur hitam
(abu-abu) pun lama kelamaan akan menunjukkan warna dominannya, baik kembali
putih bersih ataupun berubah hitam pekat. Toleransi bukan menyetujui maupun
bercampur dengan hal yang kita tolerir tadi, hanya membiarkan untuk
kondisi-kondisi tertentu saja, tidak merubah pemahaman seseorang terhadap
sesuatu yang ia tolerir itu.
Dengan kata lain toleransi hanya dilakukan untuk menghindari masalah besar
yang dapat timbul dari perbedaan di masyarakat. Tetap sopan meskipun dihina dgn
tawaran yg mempermainkan keimanan muslim; ga melawan/diem aja/stay cool, tapi
pemikiran tetap Tauhid; ini lah yang dimaksud toleransi pada peristiwa asbabun
nuzul surah Al-Kafiruun ini. Hal ini pun terjadi bukan karena mewajari budaya
kekafiran ataupun karena takut pada kekuatan Quraisy; toleransi ini dilakukan
karena kekuatan Islam pada saat itu belum cukup kuat untuk mengalahkan quraisy
secara fisik&materi, sehingga masih perlu bermain elegan jika tak ingin
berhenti karena tubuh terhunus tombak quraisy ataupun kelaparan karena embargo.
Toh, selepas tawar-menawar yang resmi ini berakhir Rasulullah dan sabahatnya
terus berdakwah, tetap pada keyakinannya.
Subhanallah, betapa jeniusnya rasulullah dalam melangkah. Semoga kita dapat
memahami perilakunya dan belajar dari-Nya, sehingga perilaku kita membuat kita
terpelihara dalam keTauhidan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar