Senin, 16 Desember 2013

setelah sekian lama blog ini aku telantarkan... hari ini aku post salah satu tugas pengganti tugas ku yang telat masuk :p artikel ini aku tulis dengan berbagai sumber salah satunya video nouma ali khan ttg pembahasan surah al-kafirun dan beragam sumber lain di internet... thanks a lot for the knowledge ^_^

kkk~bahasanya agak formal... maklum  namanya juga tugas sekolah


Toleransi

Toleransi adalah sikap mewajari sesuatu yang tidak kita sukai atau bertentangan dengan pemikiran kita, tanpa menyetujui hal tersebut sebagai sesuatu yang benar (source: KBBI digital; wikipedia, dengan perubahan).
Dalam bermayarakat&beragama sangat dianjurkan untuk bertoleransi, apalagi hal ini didukung kondisi negara kita yang dihiasi dengan keragaman etnis. Pada kondisi sehari-hari pun berbeda pemikiran telah menjadi hal yang biasa, karena manusia adalah mahluk sosial sekaligus individu yang harus saling berinteraksi, meskipun memiliki pemikiran masing-masing yang pastinya saling berlainan, bahkan terkadang bertentangan.
Dari fenomena tersebut muncullah sikap toleransi di masyarakat. Biasanya suatu hal dapat ditolerir karena masih berada diambang batas yang dapat diterima. Toleransi terjadi sebagai salah satu bentuk adaptasi sosial, yang dilakukan untuk melancarkan hubungan interaksi dengan orang/pihak lain. Dengan kata lain toleransi biasanya dilakukan untuk menghindari masalah yang dapat timbul dari perbedaan di masyarakat, dengan alasan saling menghargai hak diantara kita. Contohnya saja menghargai logat berbicara orang dari suku yang berbeda.
Tapi coba kita lihat keadaan yang banyak terjadi sekarang. Sangat sering terjadi penyalahgunaan sikap “toleransi” ini oleh oknum-oknum yang memanfaatkan kebiasaan orang (terutama orang Indonesia) dalam bertoleransi, atau yang kita kenal dengan kompromi yang sering kita dengar sebagai respon “ga apa-apa”. Sebagai contoh sikap pelajar yang sering mengerjakan tugas mendekati tengat waktu pengumpulan(deadline) karena sering di”toleransi” oleh kebanyakan guru. Contoh lain adalah membiarkan orang yg merokok di tempat umum, dengan alasan menghargai hak si perokok. Bukankah orang disekitarnya juga punya hak menghirup udara yang sehat. Lalu bagaimana dengan alasan para guru dan orang yg mengafirmasi perokok tadi? Masih dapatkah toleransi dikatakan sebagai solusi? Jika iya bagaimana kadar yang tepat dalam pemakaian toleransi ini?

~Mari kita bedah kembali kasus diatas, dan kita koreksi dengan pengertian
   toleransi yang sesungguhnya~

Seperti halnya obat yang dapat menjadi racun, toleransi pun bisa menimbulkan petaka jika tidak digunakan dengan tepat. Toleransi idealnya dilakukan seperti pengertian yang kita baca di awal tulisan ini, dalam pelaksanaan diatas belum semua komponen pelaksanaan toleransi terpenuhi.
Lalu dimana letak kesalahan yang terlewati para korban oknum seperti kasus yang ada di paragraf sebelumnya? Salah satunya kesalahan yg terjadi dari pengamalan toleransi yg salah diatas adalah pemikiran seseorang bercampur dengan hal yang ia tolerir. Bila hal ini berkelanjutan, maka para korban (guru&pro rokok) akan sungkan bahkan enggan mengkoreksi perilaku oknum(murid&perokok), pada akhirnya ke”nikmatan” toleransi yang dirasakan oleh oknum akan membudaya dan lestari di masyarakat. Jika hal ini terjadi bukan hanya oknum&korbannya yang dirugikan, tapi generasi selanjutnya pun menjadi korban dari praktik toleransi yang salah ini.





Apakah ada akar masalah yang lebih dahulu menyebabkan timbulnya pembelokan praktik toleransi ini? Coba kita lihat salah satu sejarah Islam berikut ini

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc5vkeiphN0T4jpEBy470j1LZ0lzc8mIIzAtRwHi9MbGpGnyN5MTG-yC-Pdyr2QEs2bZ0w0J3EJtDSKpP7OxuEW7-R7A_J5EHVVk8ZcNgN3tlQqIBxFRMRBhpRxIecwzZ9JakwbljeVL5W/s1600/SurahAl-Kafiroon.gif

Terjemahan Bacaan Surat Al Kafirun
1). Katakanlah: Hai orang-orang kafir
2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah
6). Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku



Asbabun nuzul

~Taukah sahabat kejadian apa yang mendasari turunnya firman Allah diatas?~

Pada peristiwa tersebut kondisi umat Islam mulai menunjukkan keunggulannya di tengah masyarakat jahiliyah Arab. Karenanya para pemimpin kafir Quraisy mulai merasa terancam dengan keberadaan dakwah Rasulullah Muhammad saw yang tak tergoyahkan. Muhammad saw beserta seluruh umatnya berpegang teguh dengan kebenaran yang mereka yakini tanpa menghiraukan cemoohan dari masyarakat selainnya, bahkan tak teralihkan oleh ancaman yang diterorkan para pembesar umat kafir.
Meski usahanya tak membuahkan hasil, pada musyrikin terus mencari cara agar Muhammad saw berhenti berdakwah, dan seluruh muslim kembali pada budaya saat itu. Mereka pikir dengan dakwahnya Muhammad saw hanya ingin menunjukkan kekuatannya dan cari perhatian agar mendapatkan perhiasan duniawi yang mereka kejar dan banggakan. Tapi mereka tahu nabi Muhammad bukan orang rendahan, maka mereka menggunakan strategi penawaran yang dianggap akan menyenangkan hati Muhammad.
Salah satu kafirun mendatangi Nabi Muhammad, mengatakan seluruh kaum Quraisy akan mengikuti ajaran Muhammad saw. Bahkan akan memberikan tumpukan harta dan kebebasan memilih wanita manapun kepada Muhammad saw, tapi dengan syarat: perjanjian ini hanya berlaku semusim, dan musim selanjutnya kaum Rasulullah lah yang harus balik menyembah lata,uza, manna. Dan kembali kepada budaya jahilliyah, menghamba pada nikmat dunia dengan hukum rimba nan kapitalis.
Tentu tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh Rasulullah, beliau sampaikan firman Allah ini dengan tegas, namun dengan pembawaan yang sopan. Lagi-lagi pemimpin Quraisy keheranan, karena strateginya tak juga berhasil.

~Bukankah itu penolakan yang tegas? Dimana sikap toleransinya? Lalu apa ada
  hikmah yang dapat kita petik dari peristiwa diatas?~

Dari peristiwa tersebut banyak hal yang dapat kita pelajari. Salah satunya ketegasan Rasulullah&firman Allah dalam menunnjukkan antara kebenaran dan kebathilan. Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kesalahan mengamalkan sikap toleransi terjadi karena seseorang mulai menyetujui hal yang ia tolerir, padahal berkebalikan dari pemikirannya sendiri. Padahal, faktanya kebenaran pastilah satu. Jelas mana yang benar dan salah itu, putih yang bercampur hitam (abu-abu) pun lama kelamaan akan menunjukkan warna dominannya, baik kembali putih bersih ataupun berubah hitam pekat. Toleransi bukan menyetujui maupun bercampur dengan hal yang kita tolerir tadi, hanya membiarkan untuk kondisi-kondisi tertentu saja, tidak merubah pemahaman seseorang terhadap sesuatu yang ia tolerir itu.
Dengan kata lain toleransi hanya dilakukan untuk menghindari masalah besar yang dapat timbul dari perbedaan di masyarakat. Tetap sopan meskipun dihina dgn tawaran yg mempermainkan keimanan muslim; ga melawan/diem aja/stay cool, tapi pemikiran tetap Tauhid; ini lah yang dimaksud toleransi pada peristiwa asbabun nuzul surah Al-Kafiruun ini. Hal ini pun terjadi bukan karena mewajari budaya kekafiran ataupun karena takut pada kekuatan Quraisy; toleransi ini dilakukan karena kekuatan Islam pada saat itu belum cukup kuat untuk mengalahkan quraisy secara fisik&materi, sehingga masih perlu bermain elegan jika tak ingin berhenti karena tubuh terhunus tombak quraisy ataupun kelaparan karena embargo. Toh, selepas tawar-menawar yang resmi ini berakhir Rasulullah dan sabahatnya terus berdakwah, tetap pada keyakinannya.
Subhanallah, betapa jeniusnya rasulullah dalam melangkah. Semoga kita dapat memahami perilakunya dan belajar dari-Nya, sehingga perilaku kita membuat kita terpelihara dalam keTauhidan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar